Menjaga Kesehatan Mental Selama Masa Wabah Covid-19

 

Oleh :
DR. Zamzami Sabiq Hamid, M.Psi.
Wakil Pengasuh PP. Nasyrul Ulum Aengdake
Dosen Prodi Tasawuf dan Psikoterapi INSTIKA Guluk-Guluk Sumenep

Suatu ketika, muncul segerombolan makhluk Allah berupa wabah penyakit ganas
yang hendak memasuki Kota Damaskus. Dalam perjalanan menuju Kota Damaskus,
mereka bertemu dengan salah satu Wali Allah. Kemudian, terjadilah percakapan.
“Mau ke mana kalian?”, tanya Wali Allah.
“Kami diperintah oleh Allah untuk memasuki Damaskus”, jawab wabah.
“Berapa lama, dan berapa banyaknya korban?”, tanya Wali Allah lagi.
“Dua tahun dengan seribu korban meninggal”, kembali wabah menjawab.
Dua tahun berselang, ternyata jumlah korban meninggal akibat wabah tersebut mencapai 50.000 orang. Ketika Sang Wali bertemu kembali dengan wabah penyakit ini, ia pun bertanya,
“Kenapa dalam dua tahun kalian memakan korban 50.000 orang? Bukannya kalian janji hanya seribu orang meninggal?”, tanya Wali Allah
“Kami memang diperintah Allah untuk merenggut seribu korban. Empat puluh sembilan ribu korban lainnya meninggal dikarenakan panik”, jawab wabah kepada Wali Allah.

Kisah antara wali Allah dengan wabah yang merenggut 50.000 korban di Kota Damaskus (Siria) ratusan tahun yang lalu tersebut dinukil dari Kitab Hilyatul Aulia karya Abu Nu’aim Ashfani. Di dalam kitab klasik karangannya Abu Nu’aim Ashfani memaparkan sejarah dan biografi para ulama salaf terdahulu secara detail. Termasuk tentang wabah yang menggtu 50.000 korban di Kota Damaskus, dimana mayoritas korban justru meninggal bukan karena terserang wabah yang ada. Namun karena rasa cemas dan panik yang timbul karena ada wabah tersebut.

Sebenarnya sangat wajar jika terdapat suatu wabah semacam Corona Virus Deseas (Covid-19) seperti saat ini membuat kita cemas. Namun jangan sampai kecemasan itu kita biarkan sehingga memunculkan kepanikan. Kecemasan yang muncul biasanya ditimbulkan oleh adanya informasi melalui pesan singkat ataupun video tentang korban yang terserang Corona Virus Deseas (Covid-19). Sehingga kecemasan yang kita rasakan akhirnya memunculkan reaksi psikosomatik tubuh seperti tenggorokan tiba-tiba terasa agak gatal, badan terasa nyeri dan sedikit meriang walaupun ketika diukur melalui termometer suhu tubuh tampak normal. Amygdala atau pusat rasa cemas sekaligus memori kita secara spontan aktif bekerja ketika mendapatkan berita-berita tentang Corona Virus Deseas (Covid-19), akhirnya kadang amygdala kita tidak sanggup mengatasi kerja berat itu. Amygdala yang dipaksa bekerja berlebihan juga akan mengaktifkan sistem saraf otonom secara berlebihan. Akibatnya kita akan selalu dalam kondisi siaga terus menerus seakan-akan ada ancaman yang akan menyerang kita. Ketidakseimbangan semacam ini yang akhirnya menyebabkan gejala psikosomatik muncul sebagai suatu reaksi menghadapi ancaman. Jika kondisi semacam ini dibiarkan terus menerus, puncaknya akan menjadi sebuah kepanikan yang akan berakibat fatal bagi kita seperti dalam kisah wabah di Kota Damaskus diatas.

Untuk itu perlu ada usaha yang harus kita lakukan, agar bisa segera lepas dari kecemasan sebagai dampak mewabahnya Corona Virus Deseas (Covid-19). Ini penting karena akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental kita. Beberapa langkah yang bisa kita lakukan sebagai ikhtiar untuk menjaga kesehatan mental kita selama masa wabah Corona Virus Deseas (Covid-19) diantaranya:

1. Batasi membicarakan tentang Covid-19
Membatasi membicarakan Corona Virus Deseas (Covid-19) akan sangat berpengaruh pada kerja amygdala kita. Mulai atur waktu untuk membicarakan tentang Corona Virus Deseas (Covid-19) setidaknya 2 jam sehari. Misal antara pukul 17.00-19.00, selebihnya waktu kita bisa dipergunakan untuk membicarakan hal-hal lain.

2. Abaikan dan hapus video atau gambar tentang Covid-19 yang membuat takut
Video atau gambar yang menampilkan kondisi pasien yang terpapar Corona Virus Deseas (Covid-19) atau kepanikan yang terjadi karena Corona Virus Deseas (Covid-19) di suatu tempat yang menimbulkan ketakutan bagi kita akan membuat amygdala kita secara spontan aktif bekerja berat. Ini akan langsung menimbulkan muncul kecemasan pada diri kita. Jadi jika ada video atau gambar tentang Corona Virus Deseas (Covid-19) langsung abaikan atau hapus saja.

3. Lakukan hobi yang menyenangkan di rumah selama masa social distancing diterapkan
Kebijakan pemerintah agar kita #dirumahsaja sebagai social distancing dan langkah antisipasi penyebaran Corona Virus Deseas (Covid-19), lama kelamaan akan membuat kita jenuh dan bosan. Maka untuk mengatasi hal tersebut bisa dilakukan dengan melakukan hobi yang menyenangkan bersama keluarga di rumah. Bisa dengan bermain bersama anak, atau hal yang menyenangkan lainnya.

4. Cari topik lain untuk obrolan di rumah selain urusan Covid-19
Banyak topik yang bisa dijadikan bahan obrolan di rumah selain tentang Corona Virus Deseas (Covid-19). Ini bisa dilakukan ketika kita berkumpul dan melakukan obrolan dengan keluarga. Bisa mengobrol tentang hobi, obrolan tentang tumbuh kembang anak dan hal lainnya yang bisa membuat amygdala atau pusat rasa cemas kita menjadi rilek bekerja,

5. Ciptakan optimisme dan harapan-harapan bagi seluruh anggota keluarga
Optimisme dan harapan-harapan sangat diperlukan dalam menghadapi wabah Corona Virus Deseas (Covid-19) ini. Kita harus yakin bahwa kita bisa lulus melewati masa-masa ujian menghadapi Corona Virus Deseas (Covid-19) ini. Optimisme dan harapan harus kita tularkan bagi keluarga dan orang-orang terdekat kita, sehingga ada semangat baru untuk terus bersama berjuang menghadapi ujian ini.

Semoga langkah-langkah diatas benar-benar bisa menjadi bagian dari ikhtiar kita untuk menjaga kesehatan mental selama masa wabah Corona Virus Deseas (Covid-19). Dengan terus berikhtiar, ikhtiyath, istianah dan tawakal pada Allah, yakinlah bahwa kita semua bisa melewati semuanya…

One Reply to “Menjaga Kesehatan Mental Selama Masa Wabah Covid-19”

Leave a Reply

Your email address will not be published.